YOU'LL BE MY LAST

Even though you’re not the first to me, I’m sure that you’re the right person to be the last.
            Rintik-rintik hujan akhir-akhir ini menjadi teman setiaku di malam hari dikala mengerjakan pekerjaan yang sudah mulai menumpuk jelang akhir tahun ini. Yap! Akhir tahun ini akan menjadi salah satu momen paling penting bagiku karena aku akan menjalani hidup baru bersama seseorang. Reina adalah akhir dari penantian lama dan awal dari kehidupan baruku. Tepat di hari terakhir tahun ini, kami akan mengikat janji suci di depan altar pernikahan dan menjalani kehidupan baru bersama dengan gelar sepasang suami-istri. Membayangkan waktu yang hanya tinggal dalam hitungan bulan, memberikanku semangat tersendiri mengerjakan pekerjaanku sebagai seorang akuntan.

Ceritaku dan Reina bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Suatu hari di bulan Desember di tahun pertamaku di perguruan tinggi, aku bertemu dengannya di sebuah minimarket sebelah kampusku. Perempuan dengan paras manis dan postur tubuh yang tinggi ramping membuatnya cocok menjadi seorang model, berdiri di depanku mengantri kasir minimarket yang jarang sekali ramai seperti kali ini, dengan rok abu-abu khas SMA. Aku pun sempat terpana dengannya entah mengapa, tapi perhatianku teralihkan oleh dering ponselku. Perempuan di depanku itu sontak menoleh ke arahku dengan pandangan heran.

Selesai menjawab telepon yang ternyata dari pacarku, anak SMA itu mengajakku berbicara. Dia berbicara tentang dering ponselku yang dianggap sudah terlalu kuno dan butuh diganti apalagi zaman sekarang lagu-lagu sudah semakin banyak dan lebih modern, seolah-olah ia pakar musik atau sebagainya. Aku tak mengambil pusing ucapan anak SMA tersebut, alih-alih lebih pusing memikirkan pacarku yang mengajakku ke mall hari ini setelah selama 3 hari berturut-turut kami sudah pergi ke mall.

Lamunanku teralihkan ketika anak SMA itu memanggilku dengan panggilan “Kak,” yang awalnya hanya kuanggap angin lalu karena kukira orang lain yang ia panggil. Dia pun menghampiriku setelah aku hanya memandangnya sebagai bentuk tanggapan. Dia pun berbicara kepadaku dan ingin meminjam uang, karena ternyata dia sedang tidak membawa dompet dan tidak ada orang yang bisa ia pinjami uang padahal dia sangat membutuhkan barang yang harus dibelinya itu. Tanpa pikir panjang aku pun meminjamkan uangku kepadanya yang dibalasnya dengan ucapan terima kasih dan senyum paling manis yang pernah kulihat selama ini. Selesai membayar ia pun keluar dari minimarket dan pergi.

Awalnya kukira dia benar-benar pergi tanpa berniat untuk mengembalikan uangku, meskipun jumlah uang yang dipinjamnya relatif  sedikit. Namun ternyata aku salah, dia berdiri di depan kafe seberang minimarket, melambai singkat kepadaku dan menyebrang jalan menghampiriku. Dan sekali lagi aku terpana tanpa alasan yang jelas, jantungku pun berdetak lebih cepat sebagai hipotesis aku jatuh cinta pada pandangan pertama yang ditolak keras oleh otakku. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada anak SMA yang tidak kukenal, selain itu aku sendiri juga sudah punya pacar.

Sesampainya di hadapanku, dia mengacungkan secarik kertas kecil. Aku menerimanya dangan wajah bingung dan ketika aku baru mulai membaca tulisan pada kertas tersebut, anak SMA tersebut mengucapkan selamat tinggal dan pergi. Tulisan di kertas itu ternyata berisi sekilas data diri anak SMA tersebut yang ditulis dengan rapi. Di sana tertulis nama Reina Anggraini Putri dan nomor ponselnya yang bisa dihubungi agar aku bisa menagih kembali uang yang tadi dipinjamnya di minimarket. Alih-alih membuangnya, aku memilih untuk memasukannya ke dalam dompetku dengan alasan yang tak bisa dijawab oleh otakku.

Dua minggu kemudian, aku dan pacarku putus. Memang aku yang memilih untuk mengakhiri hubungan kami, namun itu karena ternyata pacarku diam-diam menyukai kakak kelas satu jurusannya dan aku juga sudah mulai jenuh dengan permintaannya yang macam-macam yang diikuti dengan sikap otoriternya yang tak mau mendengarkan penjelasanku ketika aku menolak untuk pergi bersamanya. Putusnya kisah kasih kami yang telah berjalan selama kurang lebih 2 tahun terakhir, tidak membuatku menjadi manusia yang luluh lantak tak berarti. Aku tetap menjalani hidupku sebagai mahasiswa baru dengan perasaan bahagia. Bahagia? Iya, aku sendiri tidak bisa mengerti mengapa aku malah bahagia di situasi seperti ini.

Setengah tahun setelah menikmati status asmaraku menjadi seorang jomblo, aku kembali dipertemukan oleh anak SMA yang pernah meminjam uang dariku di minimarket. Aku pergi ke minimarket sebelah kampusku dan membeli beberapa barang, sesaat kemudian ponsel di saku celanaku berbunyi yang segera kuangkat pada deringan kelima. Anak SMA di depan antrianku menoleh ke arahku dengan pandangan terkejut kemudian tersenyum ke arahku.

Selesai menjawab telepon yang ternyata dari kakakku, aku bertanya kepada anak SMA tersebut apa ada yang aneh. Dia pun membahas lagu yang kupasang sebagai nada dering ponselku yang sudah mengalami kemajuan. Tunggu, apa katanya? Kemajuan? Memangnya dia tahu nada deringku yang sebelumnya, yang sebenarnya telah kuganti karena hanya mengingatkanku tentang memoriku bersama mantan pacarku yang sekarang sudah bahagia bersama kakak kelas satu jurusannya itu.

Selesai anak SMA itu membayar di kasir, dia tidak langsung keluar dari minimarket, melainkan berdiri seiktar satu meter di sampingku dengan senyum di wajahnya sambil mengamatiku. Ketika pelayan kasir menyebutkan jumlah uang yang harus aku bayarkan, aku pun berusaha mengeluarkan dompetku dari dalam tasku. Alih-alih mengeluarkan dompet, aku malah mengeluarkan buku-buku dan kertas dari dalam tas. Usahaku mencari dompet dari dalam tas nihil dan malah memandang pelayan kasir dengan tatapan bingung bagaimana harus membayar yang dibalasnya dengan tatapan mengintimidasi seolah-olah menyuruhku cepat membayar karena antrian di belakangku yang masih panjang.

Sebuah uluran tangan muncul di hadapanku dengan sejumlah uang yang cukup untuk membayar barang belanjaanku, memberikan uang tersebut ke pelayan kasir. Rupanya anak SMA itu yang berusaha meminjamkan uang. Sekejap aku pun merasa mundur ke waktu lampau, di tempat yang sama dan dengan orang yang sama. Aku pun ingat pada anak SMA yang meminjamkan uang kepadaku, yang ternyata pernah aku pinjami uang, di tempat yang sama kami bertemu kembali. Setelah sadar aku pun tersenyum kepadanya yang sedari tadi sudah tersenyum geli kepadaku karena sadar aku tidak mengenal siapa dirinya.

Kami pun akhirnya pergi ke kafe seberang minimarket dan berbincang-bincang mengenai pertemuan kami yang sungguhlah suatu kebetulan yang ajaib, baik untuk yang pertama maupun yang kedua kalinya. Kebetulan tentang bagaimana kami bisa sama-sama tidak membawa dompet dan meminjam uang dari masing-masing, tentang dering ponselku yang sudah mengalami kemajuan, dan tentang mengapa aku tidak pernah menghubunginya untuk meminta kembali uang yang pernah kupinjami. Berbicara dengannya membuatku merasa, entahlah mungkin nyaman. Sekitar satu jam kami berbicang-bincang di kafe, yang harus kami akhiri karena ternyata Reina masih harus mengerjakan banyak tugas dan ulangan berhubung ini tahun terakhirnya di SMA.

Di akhir perbincangan, ia menyatakan ucapan terima kasihnya atas bantuanku waktu itu dan senang karena sekarang bisa bertemu denganku lagi dan melunasi hutangnya dengan membayariku belanjaan di minimarket dan roti bakar di kafe ini. Tak lupa dia juga memintaku untuk menghubunginya ke nomor ponsel yang waktu itu sudah dituliskannya di secarik kertas, yang kubalas dengan senyuman dan anggukan pertanda setuju.

Hubungan kami pun berlanjut lewat pesan singkat yang saling kami kirim yang frekuensi jumlahnya semakin meningkat setiap hari, setelah aku tak perlu repot-repot menemukan secarik kertas berisi nomor ponselnya di dalam dompetku. Di saat seperti ini aku bersyukur karena tidak membuang kertas tersebut, karena sekarang aku bisa berkomunikasi dengan Reina. Aku merasa sangat nyaman dengan semua obrolan yang kami perbincangan karena kami sama-sama saling melengkapi bahan obrolan tersebut. Perlahan tapi pasti, hatiku yang sudah lama kosong mulai terisi nama Reina, serta senyum manis khasnya yang kujumpai setiap hari Sabtu.

Aku pun merasa perasaanku terhadap Reina sudah tidak bisa dibendung lagi jika status kami tetap menjadi seorang teman. Akhirnya di bulan Desember tepat satu tahun sejak pertemuan pertama kami, aku menyatakan perasaanku di kafe depan minmarket tempat pertama kalinya kami bertemu. Perasaanku pun berbalas, perempuan di hadapanku yang tak lagi memakai rok abu-abu melainkan jaket almamater yang sama seperti milikku, menganggukan kepala pertanda setuju, kemudian memelukku.

Di bulan Desember, tepat 7 tahun sejak awal pertemuan kami, aku akan membuatnya menjadi milikku sepenuhnya. Aku berjanji akan melindunginya dan membahagiakannya hingga waktu kami di dunia ini sudah berakhir. Teruntuk Tuhan yang telah membuat cintaku berlabuh pada Reina dengan pertemuan yang tak pernah kami duga, kuucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Teruntuk Reina, kuucapkan terima kasih untuk menjadi yang terakhir di hatiku dan menjadi definisi bahagia bagi seorang Rian Santoso.


Maurel's Story adalah cerita-cerita yang terinspirasi dari cerita pribadi penulis, teman-teman, ataupun khayalan penulis. Cerita bisa berupa fiksi maupun bersumber dari kenyataan. So, just enjoy Maurel's Story dan comment jika ada masukkan dan kritik yang bersifat membangun.

Comments

Popular Posts