Awal
"Kenapa kamu membiarkannya pergi begitu saja?"
"Semuanya terlihat mudah di matamu, bukan? Aku mungkin terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya semuanya berantakan..."
Pagi hari ini aku berhasil membuat janji dengannya. Akhirnya!! Perasaan hangat tergambar jelas dari cermin yang kini sedang memantulkan refleksi wajah seorang remaja yang sedang berbunga-bunga hatinya. Bagaimana tidak merasa senang, akhirnya aku berhasil menemui seseorang yang sudah beberapa belakangan ini selalu mengisi ruang di hati dan di pikiranku. Kami belum benar-benar berhubungan secara resmi, namun mungkin beberapa hari ke depan semuanya akan berubah.
Pertemuan kami yang pertama kali memang tidak terencana, waktu itu kami bertemu di sebuah acara dan dikenalkan oleh kenalan kami. Aku tidak memiliki kesan pertama padanya, dia hanya seorang pria standard seperti pria lainnya, namun penampilannya cukup rapi. Kesan ini akhirnya berubah seiring berjalannya waktu, berawal dari sapa hingga berakhir menjadi tempat curhat yang nyaman. Yup! Aku akhirnya percaya kepada dia. Pasalnya, aku adalah orang yang sulit sekali percaya kepada seseorang, apalagi seorang pria. Bukankah ini pertanda baik untuk mulai membuka hati bagi seseorang yang baru?
Besok adalah hari di mana kami akan bertemu untuk kedua kalinya, hari di mana segala sesuatunya mungkin akan berubah. Hari pertemuan kami yang kedua tinggal satu hari, jujur aku masih bimbang entah mengapa. Kami tidak bisa bertemu setiap saat karena alasan kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan urusanku di tingkat akhir SMA, sedangkan dia sibuk dengan tugas perkuliahannya. Namun, entah mengapa aku masih bimbang. Sudah beberapa kali aku abaikan semua rasa bimbang ini, namun entah mengapa selalu saja muncul.
Hingga satu notifikasi muncul di sore itu. "Ta, besok pergi yuk! Temenin gua keliling Jakarta, kan lusa gua udah harus pergi lagi," pesan dari Ando. Ando adalah teman baruku, asalnya dari luar Jakarta dan kami berkenalan beberapa saat setelah aku berkenalan dengan si dia. Seandainya aku berkenalan dengan Ando terlebih dahulu, mungkin.. Ah, sudahlah tak perlu banyak berimajinasi. Aku sekarang perlu memutuskan untuk menemani Ando atau pergi bertemu dengan dia seperti janji kami.
Singkat cerita akhirnya aku memillih untuk membatalkan janjiku dan mengiyakan ajakan Ando karena aku tidak tahu kapan dia akan kembali lagi ke Jakarta. Si dia otomatis kecewa dengan keputusanku dan bertanya apakah aku benar-benar tidak bisa bertemu dengannya. Dengan berat hati, kukatakan bahwa aku perlu mengundur waktu pertemuan kami.
Namun, sejak hari itu, dia berubah. Perlahan tapi pasti, dia mulai menjauh hingga akhirnya benar-benar menghilang dari hidupku. Tak ada lagi ucapan selamat pagi, foto-foto dirinya yang sering kuhujat, foto-foto aktivitasnya, perang stiker denganku, hingga yang paling ku rindukan adalah ungkapan manis yang dia ucapkan. Sepi bukan rasanya, ketika kehilangan dirinya? Terlambat ku sadari memang jikalau dia sudah menjadi salah satu bagian terpenting dalam beberapa bulan belakangan ini. Terlambat ku sadari bahwa aku selalu tersenyum bodoh ketika melihat handphone-ku berkedip nyala tanda pesan masuk darinya. Terlambat ku sadari bahwa dirinya adalah orang pertama yang selalu ku nantikan di pagi, siang, ataupun malam hari.
Nyatanya, semua itu belum seberapa, aku yang terlalu gengsi untuk menghubunginya terlebih dahulu dan bertanya mengapa dia menjauh. Puncaknya adalah ketika aku melihat foto seorang wanita di Instagram story miliknya, bukan sekali, namun berkali-kali. Melihat foto wallpaper Line-nya berubah menjadi seorang wanita lain. Hati kecilku berbisik, "Bukankah seharusnya itu dirimu?" Hingga pada akhirnya, aku menemukan diriku tersakiti. Aku menangis tanpa sadar di malam hari atau di saat aku termenung sendiri.
Aku yakin, seiring dengan berjalannya waktu semuanya akan lebih baik. Luka ini akan sembuh.
-ini adalah luka pertama, awal dari kisah lainnya
Comments
Post a Comment