Ruang Hampa
"Bagaimana cara untuk menghilangkan kekosongan?"
Pertanyaan ini cuma bisa berakhir dengan tatapan kosong dari kami. Bagaimana tidak, pertanyaan ini yang sudah berkali-kali lalu-lalang dalam benakku beberapa waktu belakangan ini. Rasanya tak ada 'obat' yang tepat untuk masalah satu ini, setiap kali kucari tahu solusinya yang memilih untuk membisu.
Bukan rahasia umum lagi jikalau akhir-akhir ini ada banyak kasus berkaitan dengan masalah kesehatan mental, gak peduli public figure atau orang-orang sekitar, kami, manusia. Kata-kata "Duh cape banget sama hidup" atau bahkan "Lebih baik meninggal deh kayaknya," sudah akrab mondar-mandir telinga ini. Bahkan tak jarang hati turut mengiyakan meski raut wajah hanya bisa tersenyum hambar sembari menyemangati.
Sadar atau enggak, semakin bertambahnya waktu, kita dipaksa untuk semakin dewasa. Bukan hanya dari segi fisik, tapi poin paling pentingnya adalah dari segi mental. Yang akhir-akhir ini juga terus terucap dalam hati, "Enak ya jadi anak kecil," setiap kali melihat anak kecil yang tertawa karena hal sepele atau malah menangis.
Makin ke sini, kata orang-orang ada makin banyak hal yang perlu dipikirkan. Tapi menurutku malah perlu diabaikan. Iya, diabaikan. Bukan karena tidak peduli, tapi setiap hal ada porsinya masing-masing dan over-thinking itu ngga baik.
Kilas balik ke belakang, aku seringkali mendapatkan pujian dari orang sekitar tentang bagaimana dewasanya diriku bersikap saat menghadapi sesuatu. Iya, di masa itu, harusnya aku masih perlu berpikir seperti teman-teman seusiaku, namun aku memilih untuk bersikap lebih dewasa. Mungkin ini salah satu penyesalanku di masa kini, karena bersikap dewasa sebelum waktu yang tepat.
Sampai beberapa waktu belakangan yang mungkin terlambat buat kusadari, teman-teman sekitarku sudah bersikap dewasa juga. Antara terharu atau bangga atau sedih, ada banyak hal yang kulewati ternyata. Dalam fase ini lah ternyata semua menjadi lebih sulit.
Sudah beberapa waktu belakangan ini aku memilih untuk menjadi tidak peka, bukan tanpa sebab. Perihal diri yang kesulitan melindungi diri menjadi salah satu faktor utama aksi ini. Namun seperti biasa, aku si observer yang tetap memperhatikan dalam diam.
Hasil observasiku menunjukkan, teman-teman sekitarku dihadapi pada masalah masing-masing, yang berakhir dengan putus asa karena masalah tersebut. Tak hanya sekali, duakali, tapi beberapa kali. Cocok sekali rasanya dengan kondisi diri sendiri, yang akhirnya memberi tameng tak peduli dengan harapan bisa sembuh.
Ada atau pernah mengalami masalah tersebut menjadikan diriku menjadi selektif cenderung berhati-hati dalam mengambil tindakan atau ucapan berkaitan dengan mereka. Atau kadang hanya diam dan tersenyum lesu, karena tahu penyemangat apapun yang datang lebih memilih menjadi angin lalu.
Musik, buku, tempat curhat. Starter pack ketika ada di fase ini. Ga perlu mempersulit diri cari solusi. "Nikmati" dulu masa itu, yang mungkin bisa banjir tangis atau kemarahan. Ga masalah untuk lelah atau bahkan nyerah, ga selamanya kita perlu sukses menyelesaikan sesuatu kok. Ada hal yang lebih penting buat diperhatiin selain tujuan-tujuan itu.
Diri sendiri. Iya, tanpa orang lain. Aware sama diri sendiri itu penting, bukan berarti tidak peduli dengan keadaan sekitar atau sesama ya. Tapi tahu prioritas mana yang perlu disembuhkan atau diperhatikan. Jangan sampai karena lengah ingin peduli, malah lalai lantaran diri sendiri juga masih terluka.
11/12. Teruntuk kamu, jika sekarang ada di masa-masa sulit, semoga bisa survive ya! Kalau aku dan orang-orang lain bisa, kamu juga pasti bisa! Sama kalau lagi ada di kondisi yang baik, sempatkan diri untuk peduli lihat keadaan sekitar ya, siapa tahu ada yang butuh pertolongan kita sekecil apapun barangkali hanya duduk di sampingnya untuk mendengarkan dia bergumam tentang hari mereka.
So, good luck and make every day as your best try 🧡
-ruang hampa masih menunggu ditemukannya rahasia guna mengaktifkan raung yang masih berada dalam fase diam
Comments
Post a Comment