Hey :)
Kemudian bagian terburuk dari cerita ini, adalah menentukan pilihan. Mengenai kembali menjadi pribadi yang kau kenal atau tetap menjadi pribadi yang tak lagi kau kenal.
Pergi. Aku kira kau akan kembali. Namun nyatanya aku hanya terjebak dalam bayang-bayang lampau. Di mana kau selalu kembali setiap kali pergi paling lama 3 hari.
1,2,3 ku menghitung hari, menanti sapa mu yang biasa akan berkata "Maaf ya aku sibuk". Iya, aku paham dan aku tak pernah menganggumu, karena jika kau ingin kembali kau pasti akan kembali.
Masuk ke hari ke-4, aku mulai khawatir. Khawatir dengan rasa ini yang mulai berteman dengan cemas, yang samar berharap kamu cepat pulang untuk merecokiku. Hari terus berganti menjadi minggu, lantas bulan.
Kini, aku telah bersahabat dengan rasa sendiir, lagu sendu, serta kadang hujan. Tak ada lagi notifikasi peran masuk yang berhasil menorehkan senyum di wajah ataupun kesal karena hal-hal bodoh.
Pergi, itu pilihan yang diambilnya dan aku takkan mencegahnya maupun memohonnya untuk tetap bertahan.
Sampai suatu ketika, kamu mulai menunjukan eksistensi lewat pesan pribadi yang tertuju padaku. Sudah kuat kataku, bersamaan pula dengan air mata yang meluncur jatuh menahan perasaan kehilangan beberapa waktu belakangan.
"Kamu kemana saja?' tanyaku dalam hati, di tengah lalu lalang orang yang sibuk pulang ke tujuan mereka di bawah sinar rembulan.
Harapan, pertanyaan, rasa lama kembali menyeruak, berebut tempat kosong dalam hati. Diri ini lantas ingin kembali ke titik awal. Tapi tak boleh, ini bukan saatnya.
Pertanyaan. Lantas aku tak mengira semua hal yang selama ini ingin kuketahui jawabannya kau ceritakan satu per satu. Alasan kepergianmu yang paling penting karena menjadi misteri terbesar, tak lagi ingin kuketahui.
Dunia ini lucu bukan. Tuhan mempertemukan orang-orang tanpa peduli pada waktu dan kondisi yang tepat atau tidak. Baginya semua tepat. Hanya manusia yang mempersulit diri.
Lantas ku menutup diri perihal memulai kembali. Aku hanya takut semua berhenti karena alasan yang sama. Aku terlalu takut berharap setiap kali ada hal kecil yang kuingat berkaitan dengan dirimu. Segala rasa ini masih ada. Namun, aku takut.
Masihkah kau mengenalku?
-dari aku yang mengenalmu dengan baik
Comments
Post a Comment