Push My Luck

"Kamu punya penyesalan apa dalam hidup?"

Jawaban dari pertanyaan ini buat seorang Michelle selalu ngga ada. Bukan berarti gua udah puas sama hidup ini. Bukan juga berarti hidup ini udah memenuhi kriteria bahagia gua. Tapi, buat apa si nyesel sama sesuatu yang udah ngga akan bisa diulang kembali? Beberapa waktu yang lalu gua mendapat pertanyaan seperti ini, tentunya dengan konteks yang lebih kompleks yang tentunya membuat si penanya yakin bahwa gua menyesal karena tidak mengatakan hal yang sebetulnya perlu gua katakan. 

"Cita-cita kamu apa?"

Sama seperti jawaban dari pertanyaan sebelumnya, jawaban untuk pertanyaan ini adalah ngga ada. Tapi jujur, tiap kali jawab pertanyaan yang satu ini, gua gaakan sebangga atau selantang mengucapkan jawaban untuk pertanyaan sebelumnya. Kadang gua miris sendiri, bingung hidup gapunya tujuan yang jelas. Secara general ada, tapi untuk sesuatu yang jelas ngga ada. Ibarat kapal, gua saat ini lagi diterpa ombak ataupun ada di laut yang tenang pun ngga ada bedanya karena gua gapunya tujuan gua harus kemana, gua cuma berusaha untuk mempertahankan diri biar ga hancur ataupun lapuk. As simple as that.

Bagi gua, hidup yang paling penting itu hidup di saat ini. Di mana pun gua berada, gua yakin kalo gua cuma perlu hidup untuk saat ini dan lakuin hal yang terbaik. Gua ga muluk-muluk bercita-cita untuk jadi seseorang yang terpandang atau hebat, katakanlah jadi presiden, toh buat apa punya cita-cita setinggi langit tapi tidak didukung oleh aksi yang sesungguhnya. Gua gabilang kalau misalnya punya cita-cita tinggi itu salah ya, yang salah kalau gada usaha yang realistis untuk mewujudkannya. 

Gua belajar kalo hidup ini ga instan. Kita bisa hidup di atas atau di bawah besok, ngga ada yang tau. Cuma manfaatin waktu yang ada, bagi gua itu udah yang paling penting. Ikut acara ini, ikut acara itu, well setiap saat pasti akan ada pelajaran baru. Pelajaran ga melulu tentang ilmu yang tertulis di buku atau yang Bapak atau Ibu guru atau dosen katakan. Tapi juga tentang kepribadian, mental, dan pola pikir, yang selama ini jarang banget ditekankan.

Kemarin ini gua sempet berada di satu titik di mana gua memberikan pertanyaan ke diri gua, "Buat apa si Chelle lu ikut ini? Tujuan lu tuh apa sebenernya?" Di kondisi itu, gua bener-bener memang lagi butuh hiburan, karena mungkin kondisinya habis ujian dan gua ambil kerjaan yang jaraknya jauh dan waktunya ga main-main. Sementara, kasarnya, uang hasil kerjaan itu aja ga gua pakai. Gua bisa aja memilih untuk bersantai-santai di hari Minggu dan bangun siang. Tapi di titik yang lain gua sadar kalo gua perlu untuk lakuin itu, supaya bisa belajar dan buat kesalahan yang bisa gua pelajari juga.

Banyak temen-temen gua yang bilang kalau misalnya gua sibuk, ga salah kok. Gua memang sibuk untuk cari kesibukan, salah satunya nulis blog ini yang mungkin bisa hilangin rasa penat gua karena gua bisa cerita sesuka hati. Syukur-syukur kalau misalnya bermanfaat untuk orang lain, kalau toh memang ngga ya jangan dilanjutkan bacanya.

Gua juga sempet ke triggered pas wawancara dan interviewer gua liat CV, respon pertama yang dia bilang, "Kegiatan kamu banyak banget ya, nanti kalo keterima yakin bisa manage waktunya?" Dat moment gua merasa sangat amat bersalah punya kegiatan cukup banyak. Mungkin terlihat banyak si di mata orang, tapi memang definisi itu relatif dan bagi gua itu ga banyak karena gua sendiri fleksibel menyesuaikan diri gua dan kegiatan gua.

"Some things are prettier the way life was"

Ini adalah salah satu lirik lagu dari "Life Moves On" punya Finneas, kakaknya Billie Eilish kalau kalian kurang tau. Gua salah satu penikmat lagu Finneas dari tahun lalu dan gua lebih suka lagu-lagu dia dibanding adiknya. Lagu ini ga lain ga bukan adalah lagu galau, ya bisa ketauan langsung si dari judulnya, dan makanya gua suka.

Beberapa hal lebih indah, di masa yang dulu, bukan sekarang. Nggak salah kok, karena memang beberapa atau mungkin banyak jadinya lebih buruk dari sebelumnya dalam banyak poin kehidupan. Hidup itu perlu realistis juga, ga perlu muluk-muluk berharap sesuatu yang padahal dunia ini ga sebaik yang kita kira. Realistis, mungkin jadi salah satu poin utama kenapa MA ngga memilih untuk menyesal dalam hidup.

"I'm still a boy inside my thoughts, am I meant to understand my faults?"

Ini gua ambil dari Pluto Projector, di album Pony punya Rex Orange County. Gua pertama kali denger di radio dan penyiarnya getol banget recommend ini sampe sekitar 3x gua dengar dia siaran dan promosi lagu ini.

Gua belajar kalau misalnya setiap orang punya sisi dewasa masing-masing. Bukan karena usia seseorang sudah lebih berumur, berarti dia udah dewasa secara pemikiran dan mental. Begitu pula dengan yang masi berusia muda, bisa aja dia udah memiliki pemikiran dan mental yang dewasa. Gua punya satu temen yang pemikirannya so so, kadang bisa dewasa, kadang bisa super childish. Kalo sisi childish nya keluar, kadang bikin repot orang lain. Gak salah kok punya pemikiran ataupun mental yang belum dewasa di saat yang mungkin harusnya udah, ada banyak faktor yang bisa menghambat tapi bukan berarti gabisa. You'll undertand your faults, but at some point it will torture you. It's really nice for being a kid again.

Cuma mau bilang, kalau it's okay for not being okay. It's okay kalau kamu punya penyesalan dalam hidup yang terus diratapi, but remember life goes on, everything moves on. Don't get too overwhelmed by it. Gak salah juga kok kalau belum ketemu cita-cita atau impian, kira-kira nanti mau jadi apa, you'll find your own dream as time goes, don't overthink it. Dan gak masalah juga kalau buat kesalahan yang tunjukin seberapa kurang dewasanya kita, everyone has flaws, cause no one is perfect. Just live your life at your best and push your luck, at the moment.

Comments

Popular Posts