Angin

Kali ini langkah kita terhenti lagi
Ada persimpangan jalan lagi
Duh
Ada banyak rupanya ya
"Kenapa sih tak bisa jalan lurus saja.." gerutuku. "Kapan bisa sampainya jika begini terus?"
"Sampai? Sampai mana memang?"
"Hmm, aku tak tahu.."
"Jika begitu, kami hanya bisa mengantarmu sampai sini ya."
"Hah? Memang kenapa?"
"Karena angin memanggil kami kembali ke titik awal."
"Mengapa kalian percaya pada angin? Tak inginkah kah kalian berjalan bersamaku?"
"Angin yang mengizinkan kami berjalan bersamamu, sehingga ketika dia meminta kami kembali, kami pun harus. Kau tahu, kami sangat senang mengiringi setiap langkahmu, namun hanya bisa sampai titik ini."
"Jika begitu, bolehkah aku ikut dengan kalian untuk menjawab panggilan angin?"
"Kau tahu, setiap jejak yang tertanda di tanah akibat langkah yang kita tinggalkan akan dengan mudahnya terhapus."
"Iya, lalu?"
"Kapan kau akan sampai pada tujuanmu jika kau mengikuti kami kembali ke peraduan? Kau harus memulai segalanya dari awal lagi jika mengikuti kami dan semua perjalanan yan kita arungi akan sia-sia."
"Mmm, aku masih punya banyak waktu, jadi izinkan saja aku untuk ikut bersama kalian. Lagi pula aku percaya tak ada yang sia-sia dari perjalanan yang kita lewati, jadi biarkan saja aku mulai lagi dari awal."
"Jangan begitu, tak ada yang tahu seberapa banyak waktu yang kau miliki. Hari ini adalah hal yang perlu kau jalani sedang esok hari tak pernah ada yang tau apakah akan datang atau tidak. Kau pasti tahu benar hal ini."
"Iya aku tahu, tapi aku ragu, kalian tahu betul aku tak bisa berjalan sendirian.."
"Hey, sadarkah kau, sedari awal menemanimu, angin selalu menemani perjalanan kita. Begitu pula saat kami tak lagi dapat menemani mu. Lagi pula, di persimpangan yang nanti akan kau pilih, akan ada banyak orang yang bisa menjadi temanmu. Aku tahu betul kau butuh teman untuk berceloteh tentang seberapa birunya langit dan putihnya awan, serta seberapa lelahnya kau mencari sesuatu yang ingin kau ketahui keberadaannya tapi kau tak mengetahui wujudnya."
"Hahaha, kau benar. Lucu ya, rasanya baru kemarin kita bertemu, sekarang aku tak bisa merelakan kalian kembali begitu saja.."
"Iya, kami juga merasakan yang sama, tapi tugas kami hanya bisa sampai sini. Lain denganmu yang masih perlu melanjutkan langkah dan mencari mimpimu."
"Ah, lagi-lagi kalian benar. Kalian masih tak memiliki saran tujuan yang baik bagiku?"
"Kamu harus memercayai hal yang baik untukmu, kau yang tahu benar apa hal itu. Tak apa, katamu waktumu masih panjang bukan? Berpikiran seperti ini dan lakukan hal terbaik yang ingin kau lakukan di saat-saat kau merasa itu bisa membebaskanmu dari hal-hal yang membebanimu. Kau pasti akan menemukannya"
"Jika sudah terlambat bagaimana? Belum lagi jika aku mengarah ke arah yang salah?"
"Kau tahu, dirimu yang kukenal selama ini tak akan tersesat sekalipun berada di zona terasing pun, kau masih memiliki semangat. Entah apapun alasannya"
"Iya kau benar, mungkin ini hanya secuil ketakutanku"
"Jadi, sekarang, izinkan kami pamit untuk kembali. Terima kasih untuk semua cerita dan kesempatannya. Kau tahu benar kami berhutang padamu sebesar yang kami lakukan untukmu bukan? Hahaha"
"Hahaha, iya kalian benar. Aku yang perlu mengucap banyak terima kasih kepada kalian, tanpa kalian, ntah, aku tak akan belajar banyak hal. Baiklah, silakan pergi, aku masih akan duduk menunggu di sini. Barangkali baru beranjak ketika bintang sudah bersinar."
"Baiklah. Ah iya, bicara tentang bintang, kau tahu, dia pernah berbicara tentang rangkaian bintang yang khusus dibuatnya untukmu"
"Dia? Siapa dia? Rangkaian bintang macam apa maksudmu?"
"Dia ya dia.. Ah sudahlah, kami benar-benar perlu pamit. Terima kasih banyak, senang mengenalmu. Semoga sukses dalam perjalananmu."
"Iya terima kasih banyak"
---
Kau tahu, aku slalu mengenang cerita itu berulang kali
Layaknya kisah baru, dia tak pernah terasa awam untuk selalu dikenang
Inginku menutup mata meraba-raba mencari bintang yang dikatakan mereka
Pasalnya ku tak bisa menemukannya dengan mata terbuka
Dan, mereka benar
Di persimpangan yang baru saja kuambil
Aku sudah menemukan kawan baru
Tak banyak memang
Tapi cukup untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan mereka
Semoga, di persimpangan yang kuambil ini
Aku bisa menemukan tujuan, seperti yang mereka katakan, seperti yang angin hendaki
Atau mungkin seperti bintang yang dirangkaikan dirinya yang tak kukenal untukku
Sekali lagi, terima kasih
Mari lanjut bercerita lagi

Comments

Popular Posts